Kisah seorang gorilla dan apa yang ada dalam pikirannya

Senin, 20 September 2010

Paku Hati

Tulisan ini udah pernah aku baca dulu banget, dan sering kali teringat terutama ketika aku sadar kalau aku telah menyakiti hati seseorang.....


Proses belajar itu tak ada akhirnya, orang lain adalah cerminan bagi diri kita, dan seperti apakah hidup kita nanti amat tergantung pada diri kita sendiri. Untuk lebih jelasnya, simaklah cerita berikut ini :

Andi memiliki tabiat yang kurang baik; gampang marah, memaki dan sering berkata kasar sehingga melukai hati orang-orang disekitarnya. Suatu hari, Ayah Andi, yang mengetahui sifat buruk anaknya tersebut, memberi sekantung paku seraya berpesan, “Andi, setiap kali kau marah atau berkata kasar pada orang lain, kau harus menancapkan sebuah paku pada pagar kayu di belakang rumah sebagai hukumanmu.”


Hari pertama, karena tidak dapat menahan emosinya, Andi harus menancapkan puluhan buah paku pada pagar kayu di belakang rumahnya. Begitu pula pada hari kedua, ketiga, dan seterusnya. Tetapi, seiring berjalannya waktu, Andi mulai belajar mengendalikan emosinya sehingga jumlah paku yg mesti ia tancapkan ke pagar pun semakin berkurang.

Suatu hari, akhirnya Andi tersadar bahwa ternyata lebih mudah mengendalikan emosinya dari pada harus menancapkan paku pada pagar kayu tersebut. ia pun melaporkan hal itu pada Ayahnya.

Mendengar hal itu, Ayahnya menyarankan Andi agar meminta maaf pada orang-orang yang pernah disakitinya dan kemudian mencopot satu paku pada pagar kayu tiap kali ia berhasil mendapatkan maaf dari mereka. Singkat cerita, akhirnya Andi berhasil mencopot semua paku yang tertancap pada pagar kayu tersebut. Ia pun meceritakan kabar baik ini pada Ayahnya.

Setelah mendengar penuturan Andi, sang Ayah kemudian mengajak anaknya tersebut melihat pagar kayu di belakang rumah mereka seraya berkata, "Kau telah melakukan sesuatu yg baik anakku, dengan mau meminta maaf pada orang-orang yang telah kau sakiti. Itu sama saja seperti kau menarik paku yang tertancap di pagar kayu ini. Namun, lihatlah kayu ini sekarang berlubang-lubang, tidak mulus lagi. Inilah cerminan kehidupan. Setiap kemarahan, kegusaran, dan kata-kata kasar yang kita ucapkan pada orang lain, sama saja seperti paku yang kita tancapkan di hati mereka. Kita mungkin bisa mencabut paku itu dengan permintaan maaf, tetapi bekas luka yang kita timbulkan tidak akan pernah hilang, persis seperti bekas2 lubang paku di pagar itu . Betapapun kita berkali-kali meminta maaf, luka itu akan tetap ada."

Dalam bukunya, Cherie Carter Scott menulis, "Setiap kemarahan akan membuatmu menjadi lebih kecil, sementara memaafkan akan mendorongmu untuk berkembang jauh melebihi ukuranmu."

Meminta maaf adalah perkara mudah (walau sulit bagi sebagian orang). Aku sendiri biasanya orang yang rada sulit minta maaf, tapi sampai kemarin aku berbuat salah, mengucapkan kata yang menyakiti seseorang, namun aku akhirnya sadar dan meminta maaf, dan berusaha mencabut paku2 yang sudah pernah aku tanamkan. Sadar atau tidak sadar, aku jg merasa sakit saat mencabut paku itu...dan ketika hati tersebut telah berlubang akibat paku yg aku tanamkan, yang tersisa hanya rasa sesal dan berharap pintu maaf dibuka serta berjanjilah pada diri sendiri agar tidak melakukan kesalahan yang sama lagi, sebab hati yang terluka, jarang bisa ditambal terus menerus.


Dear wonder woman, i am sorry......

Minggu, 05 September 2010

Menilai tanpa menghakimi

Salah satu alasan blog ini dibuat adalah ketika aku ingin menguraikan mengenai Menilai Tanpa Menghakimi. Setelah mendapat kata-kata ini dari seseorang, aku jadi sering mempelajari dan (sedang dalam usaha) menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Aku mulai dengan definisi dari kedua kata tersebut (diambil dari Kamus Besar Bahasa Indonesia)
Menilai= (1)memperkirakan atau menentukan nilainya; menghargai (2) memberi nilai; menganggap (3)memberi angka
Menghakimi = mengadili atau berlaku sbg hakim thd seseorang.

Setelah melihat definisi kedua kata tersebut, coba pikirkan, mana yang lebih sering kita lakukan? menilai atau menghakimi? atau keduanya? Apapun jawaban anda, simpan saja dalam pikiran anda masing-masing, karena saya tidak akan menilai ataupun menghakimi jawaban anda. Tapi karena ini blog saya sendiri jadi aku akan ulas sesuai dengan apa yang aku pikirkan.

Seringkali aku melihat atau mendengar seseorang menghakimi orang lain, ya...setelah menilai, mereka biasa suka menghakimi. Saat aku sedang memikirkan mengenai konteks menilai dan menghakimi, tiba-tiba aku mendengar percakapan antara 2 orang. A bertanya"apakah memakai pakaian ini akan terlihat seperti pe**k?soalnya si C bilang kalau aku pake gitu kayak pe**k", pakaian tersebut kalau tidak salah berlengan pendek dan bercelana pendek. Lalu si B  berkomentar, pakaian itu memang terbuka, tetapi tidak terlihat seperti pe**k kok...
VOILA!!! Menurutku, itulah contoh menilai dan menghakimi, ketika seseorang menilai orang lain tanpa memberi label tertentu. Kayak contoh diatas, si B menilai bahwa A pakaiannya memang terbuka, sedangkan si C menghakimi  dengan pe**k. Lantas, semudah itukah kita melakukannya untuk hal lain?
Bayangkan anda memiliki pasangan yang memiliki masa lalu yang "berbeda" (aku beri tanda kutip agar anda MENILAI sendiri arti kata tersebut, tolong jangan menghakimi arti kata berbeda itu). Setelah anda mengetahui masa lalu yang "berbeda" tersebut, apakah anda masih siap menjalankan hubungan tersebut ke masa yang akan datang? mungkin anda akan berpikir, "jangan2 ntar dia gitu lagi deh" atau "ah, masa lalunya begitu, masa depannya mungkin ga jauh beda", atau mungkin anda berpikir "ya, itu masa lalu dia toh yang aku jalanin adalah ke masa depan". Itu hanyalah contoh2 jawaban yang mungkin muncul dalam pikiran anda, akan lebih banyak contoh yang akan muncul sebenarnya...dan apapun jawaban anda, aku takkan menilai ataupun menghakimi jawaban anda.

Menurut aku, si gorilla...menilai tanpa menghakimi itu sulit. Bukanlah hal mudah kita menilai seseorang tanpa menghakimi terlebih jika kita tinggal di lingkungan yang memiliki stigma yang besar. Komentar sinis dan pemberian label kepada seseorang itu sudah menjadi bagian dari percakapan sehari-hari. Menilai seseorang itu perlu, menghakimi mungkin sulit dihindari tetapi saat kita dihakimi seseorang sadarlah (untuk yang tidak sadar) bahwa hal tersebut itu tidak menyenangkan, dan cobalah memaafkan mereka yang gemar atau punya hobi menghakimi ,  karena ternyata jika kita bisa menilai seseorang tanpa menghakimi itu berarti kita lebih pintar, kita lebih wise, kita lebih dewasa dalam memahami orang lain. Kenapa begitu?
Menghakimi seseorang itu mudah...sangat mudah. Ketika kita melihat seorang dengan pakaian "terbuka", sedang merokok di pinggir jalan, dapat dengan mudah kita bilang wanita itu pe**k atau j*b**y, atau sebutan apapun itu...tetapi apakah adil (liat arti kata menghakimi diatas)buat dia? bagaimana kalau dia ternyata habis dari suatu pesta dan dia bertengkar dengan pacarnya dan salah satu tempat dia menenangkan diri itu adalah di pinggir jalan sambil merokok? atau mungkin saja dia baru saja ternyata dia hanya menunggu seseorang untuk menjemputnya untuk pergi ke pesta dan dia disuruh untuk tunggu disana? Masih banyak kemungkinan yang lain kok selain menghakiminya dengan p**k atau j*b**y. Karena sebenarnya untuk menghakimi seseorang, anda tidak perlu memutar otak terlalu dalam, memberi label tidak perlu pemahaman ekstra. That's why saat aku mengatakan kita itu lebih pintar, wise dan dewasa saat kita bisa menilai tanpa menghakimi itu karena ktia lebih memutar otak dan  lebih bijak dalam memilih kata2 dalam mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran kita. Hal ini mungkin untuk sebagian orang itu mudah...tetapi saat kita mencoba melakukannya dalam kehidupan sehari2...ternyata tidak mudah.....
Saat anda membaca tulisan ini, sudah berapa kali anda menghakimi orang lain hari ini?

Introduction

Setiap orang, maupun hewan (jika mereka bisa) yang ingin tampil secara umum, layaknya memperkenalkan diri terlebih dahulu...

Si Gorilla ini bukanlah hewan..tetapi seorang manusia, yang menganggap dirinya reinkarnasi dari seekor gorilla lalu terlahir sebagai manusia, tetapi yang namanya manusia tidak ada yang sempurna, ia pun lahir dengan perut seperti panda...buncit, besar..dan dalam bahasa manusia disebut gendut. Hidung seperti babi, karena ukurannya cenderung lebih besar daripada manusia pada umumnya, meskipun tidak seperti Mehmet Oyzurek dari Turki yang memiliki hidung terbesar di tahun 2005 dengan rekor 8,8 cm.
Mehmet Oyurek
Kaki beruang..nothing special about it, hanya karena memiliki bulu yang lebat meskipun tidak lebih lebat dari beberapa orang lainnya. Yah, itu hanya tampilan fisik, dimana segala sesuatu dapat diubah terutama jaman operasi kecantikan saat ini. Hidung babi dapat diubah menjadi hidung mancung yang indah, tapi sekali lagi...itu hanyalah fisik semata yang dengan mudah dapat dipermak sedemikian rupa.
Posting pertama ini bukan ingin membicarakan tentang hidung atau fisik sebenarnya, namun memperkenalkan diri....lalu, bagimana agar mengenal gorilla ini? pelajarilah mengenai apa yang dipikirkannya, mungkin suatu saat anda akan mengenalnya lebih baik...