Proses belajar itu tak ada akhirnya, orang lain adalah cerminan bagi diri kita, dan seperti apakah hidup kita nanti amat tergantung pada diri kita sendiri. Untuk lebih jelasnya, simaklah cerita berikut ini :
Andi memiliki tabiat yang kurang baik; gampang marah, memaki dan sering berkata kasar sehingga melukai hati orang-orang disekitarnya. Suatu hari, Ayah Andi, yang mengetahui sifat buruk anaknya tersebut, memberi sekantung paku seraya berpesan, “Andi, setiap kali kau marah atau berkata kasar pada orang lain, kau harus menancapkan sebuah paku pada pagar kayu di belakang rumah sebagai hukumanmu.”
Hari pertama, karena tidak dapat menahan emosinya, Andi harus menancapkan puluhan buah paku pada pagar kayu di belakang rumahnya. Begitu pula pada hari kedua, ketiga, dan seterusnya. Tetapi, seiring berjalannya waktu, Andi mulai belajar mengendalikan emosinya sehingga jumlah paku yg mesti ia tancapkan ke pagar pun semakin berkurang.
Suatu hari, akhirnya Andi tersadar bahwa ternyata lebih mudah mengendalikan emosinya dari pada harus menancapkan paku pada pagar kayu tersebut. ia pun melaporkan hal itu pada Ayahnya.
Mendengar hal itu, Ayahnya menyarankan Andi agar meminta maaf pada orang-orang yang pernah disakitinya dan kemudian mencopot satu paku pada pagar kayu tiap kali ia berhasil mendapatkan maaf dari mereka. Singkat cerita, akhirnya Andi berhasil mencopot semua paku yang tertancap pada pagar kayu tersebut. Ia pun meceritakan kabar baik ini pada Ayahnya.
Setelah mendengar penuturan Andi, sang Ayah kemudian mengajak anaknya tersebut melihat pagar kayu di belakang rumah mereka seraya berkata, "Kau telah melakukan sesuatu yg baik anakku, dengan mau meminta maaf pada orang-orang yang telah kau sakiti. Itu sama saja seperti kau menarik paku yang tertancap di pagar kayu ini. Namun, lihatlah kayu ini sekarang berlubang-lubang, tidak mulus lagi. Inilah cerminan kehidupan. Setiap kemarahan, kegusaran, dan kata-kata kasar yang kita ucapkan pada orang lain, sama saja seperti paku yang kita tancapkan di hati mereka. Kita mungkin bisa mencabut paku itu dengan permintaan maaf, tetapi bekas luka yang kita timbulkan tidak akan pernah hilang, persis seperti bekas2 lubang paku di pagar itu . Betapapun kita berkali-kali meminta maaf, luka itu akan tetap ada."
Dalam bukunya, Cherie Carter Scott menulis, "Setiap kemarahan akan membuatmu menjadi lebih kecil, sementara memaafkan akan mendorongmu untuk berkembang jauh melebihi ukuranmu."
Meminta maaf adalah perkara mudah (walau sulit bagi sebagian orang). Aku sendiri biasanya orang yang rada sulit minta maaf, tapi sampai kemarin aku berbuat salah, mengucapkan kata yang menyakiti seseorang, namun aku akhirnya sadar dan meminta maaf, dan berusaha mencabut paku2 yang sudah pernah aku tanamkan. Sadar atau tidak sadar, aku jg merasa sakit saat mencabut paku itu...dan ketika hati tersebut telah berlubang akibat paku yg aku tanamkan, yang tersisa hanya rasa sesal dan berharap pintu maaf dibuka serta berjanjilah pada diri sendiri agar tidak melakukan kesalahan yang sama lagi, sebab hati yang terluka, jarang bisa ditambal terus menerus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar