Potret kelam sejarah Kamboja
Part I
Choueng Ek
Sejak memutuskan untuk jalan ke ibukota Kamboja, aku mencari tempat yang paling terkenal, dan yang paling menarik memang hanya 2 tempat yaitu di Choeung Ek (baca: Ceng Eik) dan Tuol Sleng (baca: Tuo Sleng). Kedua tempat itu terkenal karena merupakan tempat penyiksaan, pembunuhan dan pembantaian ribuan orang dari 3 juta orang lebih pada jaman kepemimpinan Pol Pot (nama asli Saloth Sar) di rejim Khmer Merah , Khmer yang artinya orang Kamboja asli dan merah tentu saja warna khas dari komunisme.
Khmer Merah (atau Khmer Rouge) berkuasa dari 1975 - 1979 setelah Pemimpin dari Partai Komunis Kampuchea yaitu Pol pot berhasil menggulingkan kepemimpinan pangeran Sihanouk dan Jendera Lol Nol yang mereka anggap memiliki kepemimpinan yang buruk dan korup. Pol Pot berencana membangun kembali negara Kamboja melalui kepemimpinannya dengan memulai tahun 0 sebagai awal kebangkitannya.
Kehidupan di jaman Khmer Merah membawa serangkaian program radikal dari semua pengaruh asing, menutup sekolah, rumah sakit dan pabrik, menghentikan perbank-an, keuangan dan melarang semua agama, mengambil alih semua pemilikan swasta dan merelokasi orang dari daerah perkotaan untuk menjadi petani. Tujuan dari program ini agar Kamboja menjadi negara yang adil dan merata, tidak berjenjang dan menjadikan negara pertanian yang besar. Warga dipaksa untuk menghasilkan hasil pertanian 3 ton per hektar dari sebelumnya 1 ton per hektar. Proses ini dilakukan dengan cara kerja paksa, diberi makan 1 kali sehari dan 2 kali sehari pada waktu panen, semua anggota keluarga dipisah, suami istri hanya diperkenankan bertemu secara terbatas, dan jika berlebihan akan dieksekusi langsung. Semua hal yang melanggar dengan ketentuan akan dieksekusi, orang berpendidikan (bahkan yang pakai kacamata juga dibunuh), tokoh agama, orang yang berhubungan yang pemerintahan jaman dulu, keturunan asing (Vietnam, Thai, Chinese), dan sejumlah alasan digunakan untuk eksekusi orang tersebut. Para Imam Muslim dipaksa untuk memakan daging babi, karena melarang adanya agama, kalau menolak akan dieksekusi. Ini kedengarannya gila, tapi kalau lebih banyak dengar dan baca lebih banyak hal gila lagi.
Ok lanjut ke TKP
Saat aku bilang ke taxi-nya mau ke killing fields, dia malah nanya, mau ke killing fields yang mana? karena di kamboja sendiri ada ratusan killing fields sebenarnya, aku bilang mau ke Choeung Ek, dia malah bingung yang mana. Setelah mencari tulisan Khmer yang jelas , dia baru bilang Ceng Eik...lalu kami meluncur kek Cheoung Ek, lokasinya 45 menit dari Phnom Penh.
| Gerbang masuk Choeung Ek |
Setelah masuk ke gerbang, ada loket tempat membeli tiket masuk, untuk turis asing harganya $6 dan mendapat brosur, dan 1 set audio guide yang berfungsi untuk menceritakan masing-masing lokasi nya hanya dengan memasukan angka di audio guide itu. Ada berbagai macam bahasa yang disediakan, termasuk bahasa Melayu , Inggris, Jepang, Spanyol, dll.
| Loket |
| Brosur & Audio Tour Guide |
| Stupa |
| text: Tunjukan rasa hormatmu kepada jutaan orang yang dibunuh pada rejim Pol Pot |
| Isi dari Stupa |
Keempat sisi dari stupa terdapat lemari kaca yang berisi tengkorak dan kerangka gigi yang dibagi sesuai umur dan jenis kelamin. Terdapat lebih dari 8000 tengkorak tersimpan di stupa ini.
| Kumpulan bekas baju para korban |
| Kumpulan tengkorak korban yang menjulang tinggi di dalam stupa |
Terdapat titik tertentu dimana terdapat plang tulisan dan ada nomor (di bagian bawah plang), cukup tekan angka nomor tersebut untuk mendengar penjelasan dari audio set. Seperti ditempat ini dimana tempat parkir kendaraan yang berisi para tahanan lalu setelah turun dalam keadaan mata tertutup, dan digiring ke tempat eksekusi yang sudah digali oleh para tahanan lainnya dan segera dieksekusi.
Salah satu kuburan massal yang paling dekat dengan pintu masuk, berisi 450 jenazah di dalamnya. Kuburan ini sekarang dipagar karena termasuk kuburan massal yang berisi paling banyak jenazah.
| Foto-foto jenazah saat dikeluarkan di lubang kuburan massal ini |
| Salah satu lubang kuburan saat ditemukan pertama kali |
Lubang kuburan massal ini berisi 165 jenazah tanpa kepala yang dieksekusi dengan cara dipancung. Mereka kebanyakan merupakan orang intelek dan para pemuka agama pada saat itu.
| Kuburan jenazah tanpa kepala |
Komplek ini sebelum era Pol Pot merupakan kuburan cina, yang lokasinya agak jauh dari pemukiman, asri dan sangat indah dengan pohon longan, cherry dan anggrek di sekelilingnya. Bahkan saat digunakan sebagai kuburan massal, masih banyak batu nisan yang tidak dibersihkan.
| Bekas nisan pada zaman kuburan cina |
Terdapat banyak lubang kuburan massal di daerah ini, setelah digali masih terdapat pakaian, dan tengkorak yang masih terikat bagian matanya, pakaian dan kerangka mereka sebagian masih di biarkan begitu saja dan tidak disimpan, sebagian yang dikumpulkan baju dan kerangkanya dapat dilihat dari dekat. Perasaan yang sangat tidak nyaman akan muncul saat mendekati kumpulan kerangka dan pakaian korban, dan aroma dari kumpulan pakaian tersebut benar-benar akan membuat perut tidak nyaman.
| Kumpulan baju dan kerangka yang (kalau berani) silahkan disentuh |
| Puluhan bekas lubang kuburan tersebar di daerah ini |
Salah satu pohon yang paling mengiris hati adalah Killing Tree, konon di pohon ini bayi-bayi direbut dari tangan orang tua-nya dibanting ke pohon ini lalu langsung di lempar ke lubang yang sudah di siapkan di sebelahnya. Rejim Pol Pot membunuh para bayi dan anak-anak dengan anggapan bahwa itu untuk mencegah mereka menjadi dewasa dan membalas dendan jadi semua keturunan dari orang yang telah diduga berbuat kesalahan harus dimusnahkan.
| Killing Tree saat ini, orang menggantung gelang untuk menghormati arwah korban |
| Killing Tree dengan lubang di sebelahnya |
| Foto Ilustrasi dari Killing Tree |
Terdapat pohon lainnya yang disebut Magic Tree. Tapi tidak ada keajaiban disini, karena pada saat itu para pasukan Pol Pot hanya menggantungkan speaker di pohon ini dan menyalakan lagu revolusioner secara kencang dan berulang-ulang. Hal ini untuk menghindari para pasukan untuk tidak ragu melakukan eksekusi dan tidak bisa mendengar teriakan dan rintihan para korban. Lagu ini juga yang menjadi suara terakhir yang mereka dengar dalam hidup mereka.
Tempat ini sekarang sudah dibuat untuk senyaman mungkin, banyak tempat duduk di bawah pohon dan sepanjang jalan di pinggiran danau kecilnya dimana para pengunjung bisa duduk sambil mendengar berbagai cerita dari audio set nya. Di dalam audio set itu terdapat banyak cerita mengenai daerah ini, bahkan di putar juga lagu Build a Revolution yang digantung diputar di Magic Tree itu, lagu untuk merenung, dan beberapa lagu yang melodinya syahdu.
| Peta wisata dan nomor untuk audio set |
Saat ini semua korban yang telah ditemukan telah disemayamkan dengan layak dan manusiawi, namun sejarah kelam kekejaman manusia terhadap manusia lain masih saja terjadi di belahan dunia lainnya
Selesai perjalanan di Cheoung Ek, tujuan berikutnya....Tuol Sleng.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar